Ibu-ibu tim "anak rewel kalau nunggu"? 😭
Solusinya: *BUKU SIBUK VELCRO EDUKASI GEETOY*
*Isinya apa aja?*
Stiker velcro yang bisa ditempel-lepas. Ada: angka, huruf, bentuk, warna, buah, pakaian, dll
*Manfaatnya gak main-main:*
1. *Anak Fokus 1 Jam* → Sibuk nempel-nempel, lupa minta HP
2. *Motorik Halus Jalan* → Latih jepit jari pas buka tempel velcro
3. *Belajar Sambil Main* → Mengenal warna, bentuk, logika, tanpa dipaksa
4. *Anti Ribet* → Tinggal bawa. Buat di mobil, di resto, di rumah nenek
Bahan kain + kertas tebal. Aman, gak gampang sobek.
Cocok usia 2-6 tahun. Cowok cewek bisa!
https://s.shopee.co.id/8AVXpPiCU6?share_channel_code=1
Stok promo terbatas ya Bun 💙
---
Dunia Parenting
Menyediakan berbagai produk keluarga dan artikel parenting
24/08/2026
Ibu-ibu tim "anak rewel kalau nunggu"? 😭
Solusinya: *BUKU SIBUK VELCRO EDUKASI GEETOY*
*Isinya apa aja?*
Stiker velcro yang bisa ditempel-lepas. Ada: angka, huruf, bentuk, warna, buah, pakaian, dll
*Manfaatnya gak main-main:*
1. *Anak Fokus 1 Jam* → Sibuk nempel-nempel, lupa minta HP
2. *Motorik Halus Jalan* → Latih jepit jari pas buka tempel velcro
3. *Belajar Sambil Main* → Mengenal warna, bentuk, logika, tanpa dipaksa
4. *Anti Ribet* → Tinggal bawa. Buat di mobil, di resto, di rumah nenek
Bahan kain + kertas tebal. Aman, gak gampang sobek.
Cocok usia 2-6 tahun. Cowok cewek bisa!
https://s.shopee.co.id/8AVXpPiCU6?share_channel_code=1
Stok promo terbatas ya Bun 💙
---
*HARUSKAH AKU CEMBURU…*
- Kecemburuan ibarat garam dalam cinta : Kalau kebanyakan akan jadi asin, kalau kurang, cinta terasa hambar. Rasa cemburu yang berlebihan merupakan pintu terjadinya cerai. Namun kurangnya rasa cemburu merupakan pintu terjadinya khianat. Sedangkan rasa cemburu yang pas, itulah pondasi istana cinta.
[Dr Muhammad Majdu’ asy Syahri pengasuh situs aefaf.com penasihat masalah rumah tangga.56]
Cemburu dalam rumah tangga merupakan sesuatu yang wajar jika dikelola dengan sebaik-baiknya, tidak berlebihan dan tidak p**a meniadakan. Cemburu merupakan bagian dari romansa cinta pasangan terhadap pasangannya, cemburu terkadang menjadi bukti betapa cintanya suami pada istrinya atau sebaliknya. Karenanya rumah tangga tanpa ada rasa cemburu ibarat rumah tangga tanpa cinta. Sebagimana pernah disampaikan oleh Ibnu Hazm Al-Andalusi rahimahullah: “Bila rasa cemburu telah hilang, maka yakinlah rasa cinta pun telah sirna.” [Kitabul Akhlak wa Siyar, hal. 136]
Cemburu adalah hal yang normal. Cemburu adalah bumbu yang akan menambah rasa cinta tergantung kadar banyak sedikitnya rasa cemburu. Cemburu jangan sampai menjadi alasan munculnya prahara rumah tangga. Cemburu harus dipahami lebih-lebih cemburunya seorang wanita , maka harus dimaklumi tanpa perlu menyudutkan dan merendahkan tabiat dasar seorang wanita.
Ath-Thabari dan ulama lainnya mengatakan;
الغيرة مُسامح للنساء فيها، لا عقوبة عليهن فيها، لما جُبِلْن عليه من ذلك.
“Rasa cemburu para wanita itu dimaklumi. Mereka tidak dihukum dalam hal tersebut karena rasa cemburu sudah menjadi tabiat bawaan mereka.” [Al-Adab asy-Syar’iyyah 1/248]
Al-Ghirah (rasa cemburu) merupakan fitrah dasar pada diri kaum hawa. oleh karenanya seorang muslimah harus menjaga fitrah ini agar tidak tercampuri oleh bisikan-bisikan setan. Dengan tali keimanan dan genggaman keimanan agar ghirah tersebut dapat berakhir menjadi baik serta memberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Bahkan ibunda ‘Aisyah- radhiyallaahu ‘anha- juga sangat cemburu terhadap istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain.
Dalam hal ini ada satu pelajaran mahal bagi para suami bagaimana seni memahami karakter dasar seorang wanita yang sangat pencemburu. Bagaimana meredakan luapan-luapan emosi cinta sang isteri saat cemburu. Sebuah kisah yang langsung bersumber dari rumah tangga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimanapun rumah tangga Nabi pernah mengalami masa-masa bagaimana rasanya dicemburui oleh istri beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Pernahkah mendengar tentang cemburu yang dirasakan oleh Ibunda ‘Aisyah radhiallahu ‘anha ?
Aisyah radhiallahu ‘anha bercerita, “Saya pernah menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada haji wada’. Kala itu beliau juga membawa serta istri-istri beliau yang lain (diantaranya Shafiyyah binti Huyaiy). Kebetulan perbekalanku ketika itu sedikit sedangkan unta tungganganku kuat dan cepat. Adapun perbekalan Shafiyyah berat, namun unta tunggangannya lambat, sehingga perjalanan kami tersendat-sendat disebabkan unta tersebut.
Untuk mengatasi keterlambatan ini, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Letakkanlah perbekalan Aisyah di atas unta Shafiyyah, sedangkan perbekalan Shafiyyah di atas onta Aisyah agar perjalanan menjadi lancar.”
Tanpa ragu sedikitpun, para sahabat segera menjalankan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Berbeda dengan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha , ia tidak kuasa menahan rasa cemburunya. Dengan lantang ia berteriak: “Wahai hamba Allah tolong, aku dikalahkan oleh perempuan Yahudi ini.”
Mendengar teriakan istri beliau ‘Aisyah, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berusaha memberikan penjelasan dengan bersabda, “Wahai Ummu Abdillah, sesungguhnya perbekalanmu itu ringan, sedangkan perbekalan Shafiyyah itu berat, sehingga perjalanan menjadi terhambat. Karenanya kami memindahkan perbekalanmu ke atas tunggangan Shafiyah sedangkan perbekalan Shafiyah kami pindahkan ke atas tungganganmu.”
Mendapat penjelasan ini, rasa cemburu ‘Aisyah belum kunjung reda juga, ia kembali berkata, “Bukankah engkau mengaku sebagai utusan Allah?”.
Rasulullah tersenyum mendengar jawaban Aisyah, lalu beliau bersabda: “Adakah keraguan akan hal tersebut wahai Ummu Abdillah?.”
‘Aisyah menjawab: “Bukankah engkau mengaku sebagai utusan Allah, kenapa engkau tidak berlaku adil?.”
Belum sempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab menanggapi ucapan ‘Aisyah, mereka dikejutkan oleh kehadiran sahabat Abu Bakar radhiallahu ‘anhu. Karena mendengar ucapan putrinya seperti di atas, maka beliau marah dan segera memberi pelajaran kepada ‘Aisyah dengan menampar wajahnya.
Melhat istrinya dipukul oleh ayahnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seakan hendak mencairkan suasana dengan bersabda: “Beesikap lembutlah wahai Abu Bakar.”
Sahabat Abu Bakar menjawab: “Tidakkah engkau mendengar ucapan putriku ?.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
إِنَّ الْغَيْرَى لاَ تُبْصِرُ أَسْفَلَ الْوَادِي مِنْ أَعْلَاهُ ، إِنَّمَا التَّجَنِي فِي الْقَلْبِ
“Sesungguhnya wanita yang sedang dilanda rasa cemburu itu buta, sampai sampai tidak mampu membedakan antara dasar lembah dari bagian atasnya , dan sesungguhnya kejahatan itu hanyalah dinilai sebagai kejahatan bila dilakukan dengan sadar.” [HR. Abu Syaikh al-Ashbahani, Abu Ya’la di dalam musnadnya, dan oleh Syaikh al-Albani dinyatakn sebagai hadits dhaif Silsilah adh-Dhaifah No. 2985)]
Pada riwayat ini tergambar betapa arif Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dengan lihai mencairkan suasana, sehingga keasalahpahaman tidak berkelanjutan hingga terjadi prahara. Tergambar dengan nyata , betapa beliau benar-benar memahami kaarakter dasar wanita. Sehingga, beliau memahami bahwa seluruh ucapan Aisyah di atas semata-mata karena luapan cemburunya, rasa cemburu adalah luapan cinta yang sangat mendalam.
Bukan hanya memahami alasan, bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan pembelaan pada istrinya dari luapan amarah sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Pembelaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini menyebabkan Aisyah melunak, dan semakin memahami bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar sosok suami yang luar biasa.
Ada pelajaran berharga dari cuplikan 'pernak pernik' rumah tanggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas. Yaitu bahwa pasangan suami isteri memiliki pola komunikasi yang khas. Kekhasan yang apabila dikelola dengan bijak dapat menjadi kehangatan hidup berumah tangga.
Di antara bentuk komunikasi suami isteri yang sehat adalah manakala komunikasinya telah bersifat lepas, tidak 'anggah ungguh', serta tidak terbelenggu oleh simbol dan kedudukan yang ada pada masing-masing pasangan. Tentu saja, setelah hak dan kewajibannya telah dipahami masing-masing.
Pola komunikasi seperti ini, hanya dapat terwujud jika masing-masing pasangan memainkan perannya secara total dalam kehidupan rumah tangga. Namun hal tersebut bukan sesuatu yang dapat terwujud karena pandai berakting ala bintang film yang justeru banyak gagal dalam kehidupan rumah tangga sesungguhnya, tapi yang dibutuhkan adalah ketulusan cinta dan perasaan saling memiliki.
Ucapan Aisyah radhiallahu ‘anha di atas, jika dilihat dari sudut pandang aqidah, jelas sangat bermasalah, karena dapat dipahami meragukan kerasulan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, tidak demikian halnya jika dilihat dari kekhasan pola komunikasi suami isteri. Yang tampak justru luapan emosi cinta yang terungkap secara lisan dan refleks bukan luapan emosi penuh kebencian. Inilah bedanya rumah tangga hari ini, tidak mampu mengelola rasa cemburu yang ada adu argumentasi yang berujung saling menyalahkan satu pihak.
Di antara bentuk komunikasi suami isteri yang sehat adalah manakala komunikasinya telah bersifat lepas, tidak merasa paling tinggi, serta tidak terbelenggu oleh simbol dan kedudukan yang ada pada masing-masing pasangan. Tentu saja, setelah hak dan kewajibannya telah dipahami masing-masing.
Pola komunikasi seperti ini, hanya dapat terwujud jika masing-masing pasangan memainkan perannya secara total dalam kehidupan rumah tangga. Namun hal tersebut bukan sesuatu yang dapat terwujud karena pandai berakting ala bintang film yang justeru banyak gagal dalam kehidupan rumah tangga sesungguhnya, tapi yang dibutuhkan adalah ketulusan cinta dan perasaan saling memiliki.
Pola komunikasi yang baik antara pasangan akan memudahkan pasangan meredakan suasana saat cemburu melanda. Komunikasi yang bersifat keterbukaan tanpa ada “rahasia” akan menjadikan cemburu ibarat hiasan yang tak harus dikomentari atau dibesar-besarkan. Dengan komunikasi yang baik tentunya menjadikan cemburu dalam rumah tangga sebagai langkah menuju kebahagiaan rumah tangga.
Cemburu dalam rumah tangga adalah bumbu-bumbu yang akan semakin menambah rasa cinta dalam rumah tangga. Cemburu jika ditempatkan pada waktu yang tepat tidak akan pernah menimbulkan prahara dan gonjang-ganjing pernikahan. Cemburu pasti ada, tapi KEDEWASAAN seseorang itu dilihat bagaimana cara MENGELOLA CEMBURU.
Wa Allahu A’lam Bisshawab
REFERENSI:
Pahit Manis Rumah Tangga Rasul: Mesra Bukan Bermakna Tidak Pernah Bermasam Muka dan Romantik Bukan Berarti Tidak Pernah Berkonflik, Oleh: A.R. Shohibul Ulum
Sumber :
--------------
https://chat.whatsapp.com/JZvIFrRyQFUBK2RC7XgBBy
___
https://bit.ly/DuniaParenting_FACEBOOK
https://bit.ly/DuniaParenting_INSTAGRAM
https://bit.ly/DuniaParenting_TWITTER
https://bit.ly/DuniaParenting_TELEGRAM
"Bu, aku mau jadi astronot!" 🚀
Wujudkan cita-cita anak dari rumah yuk
*GEETOY PUZZLE 8 PLANET TATA SURYA*
*Kenapa anak wajib punya?*
1. *Belajar 8 Planet* → Merkurius sampai Neptunus. Urutan, warna, ukuran, semua hafal
2. *Puzzle Papan Kayu* → Melatih motorik halus + fokus + logika
3. *Desain Realistis* → Ada cincin Saturnus, warna asli tiap planet. Anak berasa di luar angkasa
4. *Jauh dari Gadget* → 1 jam main ini = 1 jam anak belajar sains
Bahan kayu aman, pinggirannya halus. Cocok usia 3-10 tahun
Biar anak kita bukan cuma nonton luar angkasa di TV. Tapi juga "merakit" tata surya sendiri 💙
https://s.shopee.co.id/80C3nyCuTU?share_channel_code=1
23/08/2026
"Bu, aku mau jadi astronot!" 🚀
Wujudkan cita-cita anak dari rumah yuk
*GEETOY PUZZLE 8 PLANET TATA SURYA*
*Kenapa anak wajib punya?*
1. *Belajar 8 Planet* → Merkurius sampai Neptunus. Urutan, warna, ukuran, semua hafal
2. *Puzzle Papan Kayu* → Melatih motorik halus + fokus + logika
3. *Desain Realistis* → Ada cincin Saturnus, warna asli tiap planet. Anak berasa di luar angkasa
4. *Jauh dari Gadget* → 1 jam main ini = 1 jam anak belajar sains
Bahan kayu aman, pinggirannya halus. Cocok usia 3-10 tahun
Biar anak kita bukan cuma nonton luar angkasa di TV. Tapi juga "merakit" tata surya sendiri 💙
https://s.shopee.co.id/80C3nyCuTU?share_channel_code=1
*Scroll-Buy Pada Anak: Candu Belanja Era Digital*
Oleh : Ustaz Iwan Januar
- Sesekali perhatikan barang-barang yang dibeli anak kita dari toko online. Entah mainan, baju, sepatu, asesoris, dll. Bisa jadi sudah begitu banyak. Sebagian bagus-bagus dan harganya tidak murah. Namun perhatikan tidak sampai sebulan mereka sudah scroll lagi di toko-toko online dan merengek.
Ya salah satu tantangan parenting hari ini adalah mengendalikan nafsu belanja anak-anak dan remaja. Pasar digital tidak lagi didominasi oleh orang dewasa yang bekerja. Laporan riset menunjukkan bahwa lebih dari 70% transaksi e-commerce digerakkan oleh anak muda dan remaja di bawah 35 tahun. Bahkan, riset Lokadata menyebutkan bahwa 71% anak muda membuka aplikasi belanja online minimal sekali dalam sehari, bukan karena mereka butuh, melainkan sebagai sarana hiburan.
Platform seperti Shopee, Tokopedia, TikTok Shop, dan Lazada tidak hanya menyediakan fitur jual-beli, tetapi juga menghadirkan pengalaman interaktif melalui live shopping. Survei Populix menunjukkan 62 persen Gen Z aktif bertransaksi melalui fitur ini. Bagi kalangan muda, belanja online bukan hanya soal membeli barang, tetapi juga bagian dari hiburan, bersosialisasi, dan identitas digital.
Ini masalah baru bagi orang tua. Salah satu hal yang sudah pasti pengeluaran rumah tangga bisa membengkak. Orang tua harus menambah pengeluaran atau uang jajan anak untuk keperluan belanja online mereka. Selain juga menghadapi kenyataan anak dan remaja menjadi semakin boros.
Namun ada yang lebih penting untuk diwaspadai selain soal bengkaknya belanja rumah tangga; munculnya perilaku kecanduan belanja alias shopaholic. Pasalnya hari ini stimulan belanja pada anak dan remaja begitu kencang. Selain kecanggihan teknologi toko online, dorongan belanja juga muncul karena unsur hiburan, flexing dan fomo.
Berbelanja itu fun. Ditambah lagi dorongan flexing atau pamer di circle anak dan remaja. Ada kepuasan kalau membeli barang unik yang disenangi banyak orang. Selanjutnya anak dan remaja bisa jadi begitu senang belanja karena dorongan FOMO. Fear Of Missing Out. Takut kehilangan tren. Sementara itu kecanggilan dunia marketing bisa mengubah keinginan menjadi kebutuhan.
Bagi kita, keluarga muslim, berbelanja itu adalah halal. Namun menciptakan pengendalian diri dalam berbelanja agar tidak konsumtif apalagi boros adalah penting. Allah Swt mengingatkan lewat surat At-Takatsur kita agar tidak terjebak dalam budaya pamer atau flexing. Rasulullah Saw juga mengingatkan dengan sabdanya:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak penting bagi dirinya. (HR. Imam Tirmidzi).
Ada sejumlah dampak negatif – dan jelas tidak Islami – pada anak kalau mereka tidak dilatih untuk mengendalikan diri di era scroll-buy.
Pertama, budaya scroll-buy bisa jadikan anak dan keluarga kecanduan belanja, alias shopaholic. Anak-anak bisa semakin impulsif/kalap dalam berbelanja. Algoritma media sosial mendikte keluarga, terutama anak-anak dan remaja, ’apa yang harus kita punya’. Pasar yang berkiblat pada kapitalisme hari ini mengubah keinginan menjadi kebutuhan. Bukan satu atau dua kasus orang tua terkaget-kaget karena ternyata sang anak berbelanja di pasar digital hingga belasan juta rupiah. Ada seorang ibu yang curhat karena anaknya melakukan top up game online senilai 11 juta rupiah. Ini sangat mungkin terjadi kalau kalau ponsel yang dipakai anak terkoneksi langsung dengan pembayaran digital milik orang tua, atau melalui opsi COD.
Kedua, anak akan terjebak pada budaya flexing, senang pamer. Sejak dulu belanja bisa jadi bukan karena kebutuhan tapi berurusan dengan identitas atau status sosial. Budaya flexing sejak dulu sudah berlaku. Di era media sosial hal ini menjadi semakin kuat. Anak dan remaja bisa terpancing dengan apa yang dipamerkan temannya di media sosial. Sehingga dorongan beli dan beli lagi semakin kuat.
Ketiga, anak dan remaja rentan mengidap sifat gampang bosan atau tidak puas dengan apa yang mereka punya atau beli. Efek ini dalam dunia psikologi disebut Efek Diderot (Diderot Effect). Misalnya setelah anak punya hape baru mereka tergoda untuk beli casing yang baru dan bagus. Lalu tergoda lagi untuk beli asesoris lainnya. Bahkan tergoda untuk ganti hape dengan model atau seri yang lain. Dengan efek marketing dan flexing yang makin kencang, siapa saja mudah terimbas efek Diderot ini. Termasuk anak-anak dan remaja.
Keempat, hal lain yang bisa muncul dari budaya scroll-buy adalah anak dan keluarga rentan terkena FOMO. Belanja bukan lagi dorongan kebutuhan, tapi karena ingin ikut tren. Ingin sama kerennya dan takut dibilang kudet. Akhirnya anak-anak dan remaja jadi impulsif setiap kali muncul barang baru; makanan, outfit, hape, dll. Repotnya, dunia marketing pinter menciptakan budaya baru dengan menampilkan publik figur sebagai endorser, membuat promo besar-besaran, dsb.
Sebenarnya hal yang paling merugikan keluarga muslim dari fenomena ini adalah hilangnya rasa bersyukur dan qona’ah. Dua sifat positif ini sebenarnya adalah kunci untuk menyetop budaya flexing, shopaholic, dan efek Diderot. Anak dan remaja akan paham kalau mereka belanja adalah karena kebutuhan, bukan impulsif. Dengan begitu mereka akan belajar mengendalikan diri setiap kali muncul keinginan.
Menjadi penting bagi orang tua untuk menanamkan prinsip delay gratification di tengah keluarga. Bukan saja pada anak, tapi juga pada orang tua. Tidak mesti setiap iklan atau tawaran yang lewat harus dimiliki. Juga tidak mesti setiap pencapaian itu dirayakan dengan berlebihan sebagai self reward. Lagip**a tidak ada yang mengharuskan begitu.
Kuncinya adalah menempatkan kebutuhan pokok sebagai prioritas belanja. Lalu mengesampingkan hal-hal yang memang hanya asesoris atau hiburan semata. Nabi Saw adalah sosok yang banyak menghindari perkara mubah dan lebih menyibukkan diri dengan hal-hal yang penting dalam kehidupan. Inilah ajaran mulia[Sumber : iwanjanuar.com]
---------------
Wag DuniaParenting
https://chat.whatsapp.com/FcywgyYwYdE0AHSNDGRAgz
___
https://bit.ly/DuniaParenting_FACEBOOK
https://bit.ly/DuniaParenting_INSTAGRAM
https://bit.ly/DuniaParenting_TWITTER
https://bit.ly/DuniaParenting_TELEGRAM
Ayah Bunda, daripada anak hafal nama skin ML...
Mending hafal nama 195 negara di dunia 🌍
*FLIP FLAP BOOK : ATLAS NEGARA-NEGARA DI DUNIA*
*Kenapa wajib punya?*
1. *Sistem FLIP FLAP* → Buka tutup flap nya seru. Anak gak bosen, kayak main tebak-tebakan
2. *Belajar sambil main* → Ada bendera, ibukota, hewan khas, makanan khas tiap negara
3. *Wawasan Global* → Anak jadi tau letak Indonesia, Amerika, Jepang, dll dari kecil
4. *Bahasa gampang* → Cocok usia 4-12 tahun. Ilustrasinya full color
Ini bukan atlas yang bikin ngantuk.
Ini atlas yang bikin anak nanya: "Bu, negara ini di mana?"
https://s.shopee.co.id/8AVU0CFX56?share_channel_code=1
22/08/2026
Ayah Bunda, daripada anak hafal nama skin ML...
Mending hafal nama 195 negara di dunia 🌍
*FLIP FLAP BOOK : ATLAS NEGARA-NEGARA DI DUNIA*
*Kenapa wajib punya?*
1. *Sistem FLIP FLAP* → Buka tutup flap nya seru. Anak gak bosen, kayak main tebak-tebakan
2. *Belajar sambil main* → Ada bendera, ibukota, hewan khas, makanan khas tiap negara
3. *Wawasan Global* → Anak jadi tau letak Indonesia, Amerika, Jepang, dll dari kecil
4. *Bahasa gampang* → Cocok usia 4-12 tahun. Ilustrasinya full color
Ini bukan atlas yang bikin ngantuk.
Ini atlas yang bikin anak nanya: "Bu, negara ini di mana?"
https://s.shopee.co.id/8AVU0CFX56?share_channel_code=1
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Contact the business
Telephone
Website
Address
Jalan Banda, Watulondo, Puuwatu
Kendari
93411